Pages - Menu

December 17, 2017

#SelfReminder

Tidak semua hal yang kita inginkan akan terpenuhi.
Tidak semua asa dan harapan tercapai.
Tidak semua yang sudah menjadi "kebiasaan" akan berjalan terus-menerus.

Ada kalanya gejolak-gejolak yang tercipta menjadi suatu pembelajaran.
Ada kalanya kritikan menjadi pengingat niat.
Ada kalanya perubahan yang terjadi menjadi babak baru kehidupan.

Lantas,
apa lagi yang harus dipikirkan ketika kita tahu proses yang kita lalui akan sebanding dengan hasil yang akan diperoleh?

Sabar, berusaha, berdoa.
Keajaiban akan segera tiba.

December 16, 2017

Menerima Kekurangan

Sederhananya seperti ini. Dalam berkehidupan, setiap orang memiliki kekurangan. Namun, terkadang orang-orang itu tidak dapat menerima kekurangannya sendiri. Jadi, wajar bila ia tidak dapat menerima kekurangan orang lain; kekurangan pada dirinya sendiri tidak dapat ia terima, apalagi kekurangan orang lain?


Jadi, apa yang harus dilakukan?
Belajar.
Belajar untuk menerima kekurangan diri sendiri terlebih dahulu.
Bersyukur.
Bersyukur atas segala nikmat hidup yang diberikan Allah.
Kemudian, implementasikan “hasil belajar” kita kepada orang lain. Seharusnya, jika sudah “bisa” menerima kekurangan diri sendiri, seiring berjalannya waktu kita akan “bisa” menerima kekurangan orang lain.
Jika tidak berhasil? Kembali periksa diri sendiri, mana tahu ada proses yang “terlewat”. Karena sejatinya, hidup adalah trial and error test, berhasil atau tidaknya tergantung pada rasa “cukup” yang kita punya. Gantungkan doamu setinggi langit, insya Allah, Allah pasti membantu mewujudkan doamu.



—-
Renungan setelah diskusi malam
Malang, 15 Desember 2017
Terima kasih karena telah mengingatkan. :)

December 2, 2017

Merayakan Kehilangan

Ke mana jiwa ini harus pulang kalau tahu sudah tak ada rumah yang tersedia untuknya?
People said, home is where the heart at. Namun, apa yang harus dilakukan ketika rumah itu sudah tidak menerima kehadiran ini lagi?

Bagaimana hati harus kokoh apabila sudah tak ada lagi yang menjadi penyangga?
People said, we strong as long as we can. Namun, bagaimana kalau sumber kekuatan selama ini malah pergi untuk meninggalkan?

Bagaimana jiwa dapat bahagia kalau tahu ternyata yang diusahakan selama ini adalah sebuah kesia-siaan?
People said, result will proportional with the process. Namun, mengapa usaha selama ini terasa sia-sia?

--

Baiklah, mungkin tidak akan pernah jawaban pasti atas segala pertanyaan-pertanyaan yang ada. Semua orang berhak bertanya, dan pertanyaan tersebut tidak wajib untuk dijawab. Tidak pernah ada maksud untuk menuntut, tetapi hanya ingin pertanyaan-pertanyaan yang ada segera terjawab. Agar hati lebih lapang untuk menerima dan memeluk semua luka yang ada.

Sembari itu, mari kita rayakan kehilangan atas jawaban-jawaban dengan tetap berdiri teguh. Dalam sunyi. Dalam sepi.

November 8, 2017

Sudahkah Kita ''Amanah"?

Bismillahirrahmanirrahim.

Tentang sebuah amanah.
Tulisan ini hanya untuk menjadi pengingat untuk diri sendiri, semoga bermanfaat.
---- 

Aku banyak belajar dari kehidupan kampus biru perjuangan ini.
Di sini, aku yang bukan warga “pribumi” kota ini, harus bisa beradaptasi dengan semua perubahan dan dinamika kehidupan yang ku hadapi.

Lalu, aku memutuskan untuk menyibukkan diri, agar tidak menjadi seorang mahasiswa “kupu-kupu” kalau kata orang banyak. Salah satu kegiatan yang kupilih untuk menyibukkan diri adalah berorganisasi. Maka, pelajaran kehidupanku dimulai dari kehidupan berorganisasi ini.

Menurutku, berorganisasi itu berat. Mengapa?
Pertama, amanah.
Kedua, pertanggungjawaban.
Ketiga, perjuangan.
Keempat, niat yang teguh.

Amanah menurutku merupakan sesuatu yang tidak hanya menjadi suatu kapasitas diri seorang yang orang itu ketahui, tapi merupakan kapasitas seseorang yang Allah swt. ketahui. Jika amanah diembankan kepadamu, maka saat itu juga Allah sudah menugaskan kamu untuk menyelesaikannya, melalui orang-orang atau kegiatan tertentu. Aku menganggap amanah merupakan rezeki yang diberikan oleh Allah, yang harus diperlakukan secara adil dan bertanggung jawab. Maka, demi mendapatkan ridho-Nya, aku akan sepenuhnya menyelesaikan amanah yang diberikan kepadaku dengan maksimal.

Pertanggungjawaban atas amanah menurutku juga amat berat. Mengapa? Pertanggungjawaban yang kita lakukan tidak hanya kepada yang “memberikan” kita amanah, tetapi banyak pertanggungjawaban yang harus kita lakukan. Kita harus bertanggung jawab atas pikiran, perkataan, dan perbuatan selama menanggung amanah tersebut kepada diri sendiri, orang lain, malaikat, dan tentu Allah swt. Menurutku, malah pertanggungjawaban kepada diri sendiri lah yang berat, karena kadang kita lalai akan diri kita sendiri. Apabila kita tidak dapat mempertanggungjawabkan kepada diri sendiri, bagaimana ke yang lainnya?

Perjuangan yang kumaksud di sini merupakan perjuangan untuk menyelesaikan amanah yang diberikan. Sulit sekali rasanya, apabila di beberapa titik perjalanan terdapat kerikil bahkan batu besar yang menghadang untuk menyelesaikan amanah tersebut. Maka apa yang perlu dilakukan? Berjuang, berusaha untuk menyingkirkan atau melewati kerikil dan batu besar tersebut. Dengan apa? Berdoa. Bertawakkal kepada Allah. Memikirkan semua kemungkinan, kemudian mengusahakannya.

Terakhir, dan yang paling berat. Niat. Sepantasnya jika kita mulai percaya diri untuk berorganisasi dan siap diberi amanah, kita mempunyai niat yang lurus dan teguh. Niat yang lurus, berarti niat kita selalu positif dan ikhlas untuk menyelesaikan amanah. Niat yang teguh, artinya walau banyak godaan untuk tidak menyelesaikan atau mungkin menyelesaikan dengan cara yang tidak sesuai kita niatkan sebelumnya, maka kita harus teguh dengan niat yang sudah kita punya sebelumnya. Maka, dengan niat yang teguh dan lurus ini, segala sesuatu untuk menyelesaikan amanah akan berjalan ringan, seberat dan sekeras apapun jalan yang kita lewati.

Kawan, aku menulis ini hanya sebagai media kegundahan dan keresahan hati dan diri, karena ternyata selama ini aku juga masih belum mampu menyelesaikan amanah dengan baik. Maka, mungkin dengan tulisan ini akan menjadi pengingat kita semua, semoga kita dapat menjalankan amanah dengan baik dan ikhlas ke depannya.


August 21, 2017

Pahat

Picture Courtesy by Tumblr
 Boleh jadi kesedihan lebih kuat daripada cinta, tetapi cinta selalu bisa menyembuhkan kesedihan. Kalimat ini kupahat di dinding ingatanku, kubaca dan kutelaah berkali-kali, kucerna setiap hari, dan aku sanggup merasakan kebahagiaan yang tersembunyi dalam kesedihan.
Aku tidak tahu cinta seperti apa yang dia pahat di dalam hatinya.

- Cinta yang Diacuhkan oleh Khrisna Pabichara 
 
 
 

July 18, 2017

Be Yourself

Semakin bertambah umur (dan berkurangnya kesempatan menuai kebaikan) di dunia, saya makin memahami bahwa apa yang orang sering katakan adalah benar apa adanya.
Just be yourself.
Mungkin teman-teman telah membaca tulisan maupun mendengar omongan tentang "menjadi diri sendiri". Kali ini, saya akan mencoba menulis menurut kacamata saya (saya lebih suka nulis kacamata daripada sudut pandang, mungkin karena saya seorang pengguna kacamata *krik). Semakin ke sini saya paham bahwa menjadi diri sendiri itu sangat penting. Bukan berarti bahwa menjadi diri sendiri itu kita dapat melakukan berbagai hal sendirian, atau kita tidak membutuhkan bantuan dan kehadiran orang lain, atau kita dapat bertindak seenaknya, tapi menjadi diri sendiri yang saya maksud di sini adalah "jadilah diri sendiri seperti yang kamu impikan". Gak paham, ya? Saya juga cukup sulit untuk menguraikannya, but lemme try.
Dewasa ini, banyak orang dengan sengaja "memaksakan" diri untuk dapat masuk di golongan tertentu. Dewasa ini, banyak anak SD-SMP yang "memaksakan" diri terlihat "lebih dewasa" agar ia diterima di lingkungan sekitarnya. Dewasa ini, banyak orang yang belum paham dengan dirinya dan sekitarnya, tetapi berlagak mahfum dan otaknya "berisi" agar dia menjadi viral dan terkenal.
Dunia ini fana, kawan. Dunia ini tipuan, sementara, tidak kekal. Kalau kalian masih saja berusaha untuk menjadi orang lain untuk tetap eksis di dunia, maka ingatlah apapun yang ada di dunia ini tidak kekal dan tidak ada artinya dibanding kehidupan di akhirat yang telah dijanjikan Allah swt. Tanpa menjadi orang lain, pun, kita sebenarnya dapat tetap hidup di dunia, malah menjadi lebih asik, nyaman, dan tentram. Tidak percaya?
Saya beberapa tahun yang lalu mungkin cukup berbeda dengan yang sekarang. Teman-teman saya datang silih berganti, hanya beberapa saja yang masih bertahan di posisinya. Ya, perlahan-lahan, saya telah menemukan suatu lingkaran nyaman saya, yang hanya berisi orang-orang yang saya bisa anggap "teman baik" dan "sahabat" serta dapat menerima diri saya yang sebenarnya. Tidak banyak, tapi tetap saya mensyukurinya lebih dari apapun. Saya merasa, dulu saya tidak menjadi diri saya sendiri. Saya suka mengikuti pola pikir, tingkah laku, style orang-orang di sekitar saya, dengan harapan saya bisa masuk di lingkaran mereka. Saya dulu suka mengkhianati dan membohongi diri saya sendiri, menganggap apa yang saya lakukan adalah benar dan dibutuhkan. Ternyata yang saya lakukan bertahun-tahun itu adalah sebuah kesia-siaan. Saya tetap tidak bisa masuk di lingkaran mereka, dan saya tidak nyaman dengan diri saya sendiri. Saya ternyata sering melukai perasaan dan diri saya sendiri dengan segala tingkah laku saya. Saya kemudian menarik diri saya, mencoba menjauh, dan kembali memahami diri saya sendiri. 
Apa yang diri saya mau sebenarnya? Hal ini menjadi pertanyaan besar saya. Saya mengamati lingkungan sekitar, kemudian merefraksikannya ke diri saya. Ternyata, yang saya mau adalah saya tetap dianggap ada oleh sekitar, tetapi dengan menjadi diri saya sendiri. Saya tidak perlu menjadi orang lain agar diterima di lingkungan manapun. Dan hal ini yang sedang saya coba implementasikan di kehidupan sekarang.
Kawan, menjadi diri sendiri itu penting. Tetapi, jadilah diri sendiri yang dapat bertanggung jawab dengan pilihan. Jadilah diri sendiri yang menghargai dan mencintai dirinya sendiri. Jadilah diri sendiri yang dapat memaknai hidup dengan baik. Jadilah diri sendiri dengan menjalankan kehidupan dengan sederhana dan simpel. Jadilah diri sendiri yang dapat menempatkan ego dan rasa dengan baik. Jadilah diri sendiri yang dapat menghargai dan menghormati orang lain. Jadilah diri sendiri dengan prinsip-prinsip kehidupan yang baik. Maka, kamu dapat memahami bahwa dunia ini jauh lebih indah walau bersifat sementara, karena yang kekal hanyalah akhirat. Kamu dapat memahami bahwa dunia merupakan kesempatan yang diberikan untuk menyiapkan bekal untuk kehidupan kekal nanti, layaknya kamu menyiapkan bekal untuk suatu perjalanan panjang.
Intinya, apapun yang kamu lakukan, apapun yang kamu inginkan, apapun yang kamu citakan, ingatlah bahwa orang-orang akan lebih menerima diri kamu apabila kamu menjadi diri kamu sendiri. Just be brave to do it as simple as you be yourself.

July 3, 2017

Reality of the Expectation

"A lot of people get so hung up on what they can't have that they don't think for a second about whether they really want it."
- Lionel Shriver

July 1, 2017

Mudik dan Rindu

Sebenarnya saya pengen nulis ini pas hari Lebaran kemaren, tapi karena berbagai kesibukan (mencari makanan dan kue enak serta berburu THR) sehingga saya baru dapat membagikannya sekarang. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438H, teman-teman. Semoga tetap tawakkal dan istiqomah!
--

Bulan Ramadhan tahun ini sangat berkesan buat saya. Di tahun ini, karena kebijakan kampus, saya harus melalui bulan Ramadhan nyaris sebulan penuh di kota perantauan, Malang. Saya sempat pulang di 2 hari pertama bulan Ramadhan dan sudah kembali ke kota asal saat 2 hari menjelang Idul Fitri, tapi tetap saja hal tersebut memberikan pengalaman dan perasaan yang berbeda untuk saya.

Mungkin teman-teman berpikir, "ah, paling sama saja, toh masih di Indonesia, belum rantau ke luar negeri". Guys, walau masih di Indonesia, tetapi apalah daya saya yang masih suka dimasakin ibuk saat berbuka dan sahur harus melalui sahur sendirian dan (terkadang) berbuka puasa sendirian. Saya, yang biasanya berkumpul bersama keluarga saat sahur, ngabuburit, buka puasa, shalat tarawih, kemaren harus menjalankan semuanya (nyaris) sendirian. Walaupun ketika ngabuburit dan buka puasa saya (hampir selalu) ditemani doi, ya, tetap aja rasanya beda kalau saya buka puasanya bareng keluarga di rumah dengan makanan pembuka favorit kami. Walaupun saya sahur di kantin kost-an yang sudah tersedia, tetap aja rasanya beda kalau makannya itu sahur yang disiapin ibuk. Walaupun saya selalu berusaha untuk tetap tarawih (sendirian), ya, tetap aja rasanya beda kalau saya tarawihnya sekeluarga bareng ke masjid. Those little things that make me struggle through Ramadan in Malang.

Tapi, ada kesan tersendiri juga saya melalui bulan Ramadhan di Malang. Saya menjadi memahami karakter orang-orang mayoritas di Malang ketika menjalankan puasa. Ketika di kota asal saya masih mudah menemukan warung atau rumah makan yang berbuka di siang hari, di Malang tidak lagi. Sangat jarang restoran, warung atau rumah makan yang bersedia tetap berjualan di siang hari. Ketika di kota asal saya saat jam berbuka puasa bioskop masih dapat memutarkan film, maka di Malang seluruh bioskop akan memberikan waktu jeda untuk memutarkan film, dari pukul 5 sore hingga 8 malam. Yap, setelah jadwal shalat tarawih selesai bioskop akan kembali dibuka. "Di kota asal saya aja gak sampai seperti ini," batin saya. Yap, warga Kota Malang menurut kacamata saya sangat saling menghargai dan mempunya rasa toleransi yang tinggi. Di kota inilah saya belajar banyak mengenai "saling menghargai" dan "toleransi yang sejati". Dua hal itu yang saya jarang dapatkan di kota asal saya.

Ketika saya kembali ke kota asal di Jumat subuh minggu lalu, saya harus melalui perjalanan yang panjang. Sudah biasa, tapi tetap menarik untuk diceritakan. Karena dari Malang tidak ada penerbangan langsung ke kota asal, maka saya harus terbang dari kota Surabaya. Perjalanan dari Malang ke Surabaya biasanya ditempuh 2 hingga 2,5 jam, tapi kemarin, saya hanya menempuh 1,5 jam. Can you imagine that? Saya saja yang sudah biasa menempuh 2 jam menuju Bandara Juanda masih impressed dengan kecepatan mobil yang saya tumpangi. Mungkin karena saya berangkat dini hari (saya meninggalkan Malang pukul setengah satu pagi) sehingga waktu tempuhnya menjadi lebih singkat. "Kenapa berangkatnya pagi amat, kak?" Saya berangkat jam segitu karena jadwal penerbangan saya pukul 05.35 WIB. Sebegitu takutnya saya ketinggalan pesawat, maka saya memutuskan untuk menumpangi mobil rental yang jadwalnya paling pagi. Ternyata, sampai di Terminal 2 Bandara Juanda, saya masih harus menunggu kurang lebih 1,5 jam karena pintu bandaranya masih tutup. Sendirian, cewek, bawa banyak barang, masih dalam keadaan menahan kantuk, harus menunggu selama itu. Padahal, ketika di Malang saya sudah berencana akan tidur di ruang tunggu bandara. Tapi, kenyataan emang terkadang tidak sesuai dengan yang direncanakan, ya. :')
"You know... the airport is the only place you can walk around with no shoes, a glazed look on your face, and sleep on the benches and no one judges you." - Coriander Woodruff
Saya menemukan kutipan di atas di Goodreads, dan saya mengamininya. Di bandara, kalian bakal menjumpai berbagai orang, dan kalian tidak akan peduli dengan mereka. Kita dapat melakukan apa saja di bandara, asal tidak mengganggu ketertiban dan kenyamanan orang lain. Di bandara hingga di bus menuju pesawat, bahkan di pesawat, saya mengamati wajah orang-orang. Dan saya menemukan kemiripan. Bahwa semua orang yang melalui bandara ini adalah orang-orang yang rindu akan rumahnya, baik fisik maupun secara non-fisik. Dengan berbagai keterbatasan dan kekurangan, mereka tetap berjuang untuk dapat kembali ke rumahnya. Karena sejatinya, rumahlah yang membuat mereka aman, nyaman, dan tenang. Semenarik apapun tempat lain, seindah apapun kota atau tempat perantauan mereka, maka selalu ada rumah yang mereka rindukan. Selalu ada rumah yang menjadi pelabuhan terakhir mereka. Selalu ada tempat dan waktu untuk rumah mereka. Either with mine, I always miss my home wherever I go, although I already have new lovely place and more comfort environment, but truly, I always miss my family at home.

Dari perjalanan "mudik" ini saya kembali menemukan suatu pelajaran. Suatu perasaan rindu tak akan habis jika tak terbalas. Perasaan rindu bukan berarti dibalas dengan suatu kerinduan pula, tetapi bagaimana rindu itu bisa membawa kita pulang, ke "rumah" kita. Karena sejatinya, sejauh manapun seorang perantau pergi, ia akan merindukan "rumah" atau asal mereka.

June 22, 2017

Enam Bulan Pertama di Tahun 2017

Semakin ke sini, saya makin paham bahwa banyak hal yang saya inginkan tetapi ternyata hal itu tidak saya butuhkan. Saya juga makin paham bahwa profesionalitas dalam bekerja menjadi salah satu hal yang terpenting. Dan, komunikasi juga menjadi faktor primer dalam hal apapun. Kenapa?


Di tahun 2017 ini, saya mulai mengurangi kegiatan organisasi dan kepanitiaan saya. "Pengen napas bentar", alasan saya setiap saya ditanyai lingkungan sekitar kenapa tidak mengikuti kepanitiaan x, y, maupun organisasi z. Ya, saya berkata yang sebenarnya, bahwa saya perlu waktu untuk rileks sejenak. Pengalaman pada tahun 2016 buat saya sudah amat cukup, karena saya memegang prinsip bahwa di manapun kita berkontribusi, sekecil apapun, maka akan berarti. Dan pada tahun ini, saya hanya mengikuti 1 organisasi (kecil, tapi bermakna) dan kurang lebih 3 kepanitiaan acara, yang salah satunya adalah kepanitiaan tingkat nasional (Alhamdulillah). Kurang lebih 6 bulan telah berlalu di tahun 2017, dan saya menyadari bahwa ternyata yang saya butuhkan bukanlah sesuatu yang selalu saya inginkan. Tahun 2016 kemarin, saya benar-benar ingin mengikuti berbagai macam kegiatan karena "menambah pengalaman dan berharap soft skill saya dapat berkembang". Telak bagi saya, saya "terpaksa" harus bisa membagi waktu di antara seabrek kegiatan dengan waktu dengan keluarga, kuliah, main, dan me time. Dan hasilnya? Tidak sesuai ekspektasi saya. Banyak dalam keadaan yang "terpaksa" hasil kinerja saya "biasa saja hingga amat buruk" dan cukup mendapat banyak kritik dari orang-orang sekitar. Dari situ saya paham bahwa, yang saya butuhkan bukan banyaknya kegiatan, tetapi bagaimana saya bisa mengimplementasikan pikiran dan tenaga saya untuk mencapai suatu kinerja yang baik. The 1st point is delivered.

Karena pada tahun 2017 ini saya banyak mengurangi kegiatan, maka saya dapat lebih baik dalam membagi fokus saya (dibandingkan dengan yang tahun sebelumnya). Tahun ini, saya terdaftar sebagai pengurus aktif di salah satu organisasi non-profit berbasis keilmuan yang ada di program studi yang saya tempuh dan saya mencurahkan hampir seluruh perhatian saya kepada organisasi ini. Kurang lebih 6 bulan telah berjalan, saya kemudian menyadari satu hal. Profesionalitas. Saat ini, saya menjadi pengamat teman-teman saya yang banyak mengikuti kegiatan (dibanding saya), dan saya melihat refleksi diri saya tahun 2016 di diri mereka sekarang. "Wah, kayaknya saya kemarin sesibuk itu, ya? Sampai kemarin-kemarin saya lupa makna profesionalitas itu apa," batin saya. Profesionalitas di sini tidak hanya ketika hubungan kamu dengan orang lain yang berada di dalam organisasi yang sama kurang baik tetapi kamu harus tetap dapat bekerja dengan orang itu, tetapi profesionalitas yang saya maksud di sini juga ialah bagaimana cara kamu dapat membagi waktu untuk mengerjakan 2-3 tanggung jawab yang kamu emban sekaligus. Terdengar berat, ya? Well, seharusnya orang-orang yang memilih untuk menjadi "orang sibuk" harus bisa menjaga profesionalitasnya. Me either, i am not that professional one, but I am trying to

Last point, komunikasi. Well, this is the hardest point that people always forget. Kurang komunikasi? Dimaklumi. Kurang koordinasi? Dimaafkan. Padahal, menurut kacamata saya, hal itu bukan solusi yang tepat. Tetapi, ini balik lagi ke kita masing-masing, sih. Saya merasa bahwa komunikasi amatlah penting, terutama dalam dunia kerja (i said that, although what i mean is organizational & committee's world). Apa-apa, penting atau tidak, mendesak apa tidak, hal itu semua harus dikomunikasikan, dan semua orang harus bisa memanfaatkan komunikasi itu. Gak mungkin, kan, kalian punya alat komunikasi yang super canggih tetapi gak dimanfaatin dengan baik dan benar? Feels like a dumb gitu loh, hehehe. Namun, mungkin aja benar orang-orang yang bilang sekarang, "People nowadays only hear what they want to hear, instead of what they want to understand". Dan orang-orang itu banyak saya temukan sekarang, mereka hanya mendengarkan, masuk ke satu telinga keluar ke telinga satunya, kemudian, poof! Lupa. Dengar lagi. Masuk-keluar lagi. Lupa Lagi. Begitu aja terus kayak siklus rantai makanan. Menurut saya ini gak pantas buat diterusin, harus terjadi suatu perubahan biar kita sama-sama nyaman dan tenang. #EEAAA

--
Mungkin tulisan ini gak penting buat pembaca karena ini benar-benar pengalaman saya yang saya ceritakan. Saya tidak memberikan banyak solusi, walau banyak terdapat unsur kritik di tulisan ini #maapkeun. Saya sampai saat ini juga masih belajar untuk menemukan solusi atas tiap kritik yang saya lontarkan, so if you want to give me advice and critic just write it in comment. Cheers!



April 17, 2017

Do A Little Better than Last Time.

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu. Begitu seterusnya, hingga kamu tak menyadari sudah berapa detik yang kamu lewati, sudah berapa tarikan & embusan napas yang kamu lakukan sejak pertama kali melihat dunia ini.

Dunia ini memang baik, kawan. Dia akan menyambutmu dengan suatu kehangatan yang asing, sebuah “keluarga”.

Dunia ini memang baik, kawan. Setiap pagi dia akan menyapamu melalui hangatnya fajar, dan selalu menemanimu di malam hari dengan gegap gempita bintang dan cahaya bulan yang memesona.

Dunia ini memang baik, kawan. Walau kamu sering diterpa masalah, dia selalu ada untuk tempat berpijak, dan tak pernah goyah.

Tapi, kawan.
Masih ada yang jauh lebih baik dari dunia ini.
Kamu tahu?
Ya, pencipta dunia ini. Allah Yang Maha Esa.

Maka, kamu sepatutnya berucap terima kasih dan syukur atas segala nikmat yang Dia berikan kepada kamu, kita, dan seluruh makhluk-Nya.

Kamu sepatutnya juga meminta maaf dan ampun, karena ternyata selama ini sudah jauh berpaling dari-Nya, sering melupakan di kala senang, hanya senang mengadu ketika diberi kesusahan. Astagfirullahaladzhiim.

Kamu sepatutnya berpasrah kepada Dia, memohon pertolongan, bukan hanya berjuang; karena semua makhluk yang beriman pasti percaya bahwa tanpa do’a, usaha akan selalu mengkhianati hasil.

Namun, jangan lupa bermunajat kepada-Nya. Pasti masih banyak pinta dan ingin-mu yang belum terselesaikan, tapi percayalah, dengan jalan yang Dia tentukan dan berikan, semuanya akan mencapai titik akhirnya.

March 15, 2017

Siapa dan Siapa

Bukan siapa yang menantimu di puncak, tetapi siapa yang menemanimu untuk mendaki.

Bukan siapa yang tersenyum atas kebahagiaanmu, tetapi siapa yang berani berkorban untuk kebahagiaanmu.

Bukan siapa yang senang atas kemenanganmu, tetapi siapa yang mengingatkanmu untuk berjuang.

Bukan siapa yang memberimu selamat di garis akhir, tetapi siapa yang tak letih untuk membantu agar kamu bangkit kembali.

Hidup bukan mengenai suatu akhir, karena akhir merupakan suatu awalan baru. hidup merupakan suatu proses, yang akan terus berputar pada porosnya; diri kita sendiri.

March 4, 2017

Some Things


Some things can remind us to be better.
Some things can change us to be better.
Some things can make us to be better.
Some things can help us to be better.





- grateful, thank you, sorry, helping, caring -

February 12, 2017

What The Things That Will Kill Everything?


Too much perfection and positivity kills everything. Slowly and absolutely. 

The human race believes positivity is the key of success. The human race believes perfection is the key of happiness.  
While both are the ultimate keys to neverland where everything is fake and literally unreachable. "Dream, baby, keep on dreaming," they say, so they can keep selling and you keep buying whatever they sell.  
Success and happiness only make you feel more like a failure and more unhappy. They are like air, filling every inch of the universe. 
In every word you read. 

In every visual you see. 

In every movie you watch. 
In your bright phone screen. 
In every scrolling you do. 
In every step you take. 
In every gallery you visit. 
In every clothing you wear. 
In every exam you take. 
In every dream you make. 
In every email you received. 
In every TV series you watch. 
In every snack you eat. 
In every motivation you get. 
In every work you create. 
In everything you live for.
-- The Book of Forbidden Feelings by Lala Bohang



January 28, 2017

Akhirnya


Pada akhirnya, kamu akan menyadari kamu bukanlah siapa-siapa di lingkaran itu.
Pada akhirnya, kamu akan menyadari kamu dibutuhkan di lingkaran sana.
Pada akhirnya, semua orang akan mendapatkan porsi & tanggung jawab masing-masing di tempat yang sesuai, bukan di tempat yang diinginkan.

January 19, 2017

Bersyukur

Dari semua pelajaran & proses yang telah kulalui dalam seumur hidupku, adalah satu pelajaran yang akan terus harus dipelajari, dipahami, dan diingatkan.

Bersyukur.
Bersyukur atas karunia & nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.
Bersyukur atas segala proses, perjalanan, dan pengalaman yang diperoleh.
Bersyukur atas segala kesusahan & kegetiran hidup.

Mungkin, manusia banyak yang lupa makna bersyukur itu seperti apa. dan akupun sempat lupa. Namun, beberapa kejadian akhir-akhir ini kembali mengingatkanku & membuatku lebih paham makna syukur itu.



Maaf jika masih sering melupakan.
Tolong untuk terus diingatkan.
Terima kasih telah mengingatkan.