Sebenarnya saya pengen nulis ini pas hari Lebaran kemaren, tapi karena berbagai kesibukan (mencari makanan dan kue enak serta berburu THR) sehingga saya baru dapat membagikannya sekarang. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438H, teman-teman. Semoga tetap tawakkal dan istiqomah!
--
Bulan Ramadhan tahun ini sangat berkesan buat saya. Di tahun ini, karena kebijakan kampus, saya harus melalui bulan Ramadhan nyaris sebulan penuh di kota perantauan, Malang. Saya sempat pulang di 2 hari pertama bulan Ramadhan dan sudah kembali ke kota asal saat 2 hari menjelang Idul Fitri, tapi tetap saja hal tersebut memberikan pengalaman dan perasaan yang berbeda untuk saya.
Mungkin teman-teman berpikir, "ah, paling sama saja, toh masih di Indonesia, belum rantau ke luar negeri". Guys, walau masih di Indonesia, tetapi apalah daya saya yang masih suka dimasakin ibuk saat berbuka dan sahur harus melalui sahur sendirian dan (terkadang) berbuka puasa sendirian. Saya, yang biasanya berkumpul bersama keluarga saat sahur, ngabuburit, buka puasa, shalat tarawih, kemaren harus menjalankan semuanya (nyaris) sendirian. Walaupun ketika ngabuburit dan buka puasa saya (hampir selalu) ditemani doi, ya, tetap aja rasanya beda kalau saya buka puasanya bareng keluarga di rumah dengan makanan pembuka favorit kami. Walaupun saya sahur di kantin kost-an yang sudah tersedia, tetap aja rasanya beda kalau makannya itu sahur yang disiapin ibuk. Walaupun saya selalu berusaha untuk tetap tarawih (sendirian), ya, tetap aja rasanya beda kalau saya tarawihnya sekeluarga bareng ke masjid. Those little things that make me struggle through Ramadan in Malang.
Tapi, ada kesan tersendiri juga saya melalui bulan Ramadhan di Malang. Saya menjadi memahami karakter orang-orang mayoritas di Malang ketika menjalankan puasa. Ketika di kota asal saya masih mudah menemukan warung atau rumah makan yang berbuka di siang hari, di Malang tidak lagi. Sangat jarang restoran, warung atau rumah makan yang bersedia tetap berjualan di siang hari. Ketika di kota asal saya saat jam berbuka puasa bioskop masih dapat memutarkan film, maka di Malang seluruh bioskop akan memberikan waktu jeda untuk memutarkan film, dari pukul 5 sore hingga 8 malam. Yap, setelah jadwal shalat tarawih selesai bioskop akan kembali dibuka. "Di kota asal saya aja gak sampai seperti ini," batin saya. Yap, warga Kota Malang menurut kacamata saya sangat saling menghargai dan mempunya rasa toleransi yang tinggi. Di kota inilah saya belajar banyak mengenai "saling menghargai" dan "toleransi yang sejati". Dua hal itu yang saya jarang dapatkan di kota asal saya.
Ketika saya kembali ke kota asal di Jumat subuh minggu lalu, saya harus melalui perjalanan yang panjang. Sudah biasa, tapi tetap menarik untuk diceritakan. Karena dari Malang tidak ada penerbangan langsung ke kota asal, maka saya harus terbang dari kota Surabaya. Perjalanan dari Malang ke Surabaya biasanya ditempuh 2 hingga 2,5 jam, tapi kemarin, saya hanya menempuh 1,5 jam. Can you imagine that? Saya saja yang sudah biasa menempuh 2 jam menuju Bandara Juanda masih impressed dengan kecepatan mobil yang saya tumpangi. Mungkin karena saya berangkat dini hari (saya meninggalkan Malang pukul setengah satu pagi) sehingga waktu tempuhnya menjadi lebih singkat. "Kenapa berangkatnya pagi amat, kak?" Saya berangkat jam segitu karena jadwal penerbangan saya pukul 05.35 WIB. Sebegitu takutnya saya ketinggalan pesawat, maka saya memutuskan untuk menumpangi mobil rental yang jadwalnya paling pagi. Ternyata, sampai di Terminal 2 Bandara Juanda, saya masih harus menunggu kurang lebih 1,5 jam karena pintu bandaranya masih tutup. Sendirian, cewek, bawa banyak barang, masih dalam keadaan menahan kantuk, harus menunggu selama itu. Padahal, ketika di Malang saya sudah berencana akan tidur di ruang tunggu bandara. Tapi, kenyataan emang terkadang tidak sesuai dengan yang direncanakan, ya. :')
"You know... the airport is the only place you can walk around with no shoes, a glazed look on your face, and sleep on the benches and no one judges you." - Coriander Woodruff
Saya menemukan kutipan di atas di Goodreads, dan saya mengamininya. Di bandara, kalian bakal menjumpai berbagai orang, dan kalian tidak akan peduli dengan mereka. Kita dapat melakukan apa saja di bandara, asal tidak mengganggu ketertiban dan kenyamanan orang lain. Di bandara hingga di bus menuju pesawat, bahkan di pesawat, saya mengamati wajah orang-orang. Dan saya menemukan kemiripan. Bahwa semua orang yang melalui bandara ini adalah orang-orang yang rindu akan rumahnya, baik fisik maupun secara non-fisik. Dengan berbagai keterbatasan dan kekurangan, mereka tetap berjuang untuk dapat kembali ke rumahnya. Karena sejatinya, rumahlah yang membuat mereka aman, nyaman, dan tenang. Semenarik apapun tempat lain, seindah apapun kota atau tempat perantauan mereka, maka selalu ada rumah yang mereka rindukan. Selalu ada rumah yang menjadi pelabuhan terakhir mereka. Selalu ada tempat dan waktu untuk rumah mereka. Either with mine, I always miss my home wherever I go, although I already have new lovely place and more comfort environment, but truly, I always miss my family at home.
Dari perjalanan "mudik" ini saya kembali menemukan suatu pelajaran. Suatu perasaan rindu tak akan habis jika tak terbalas. Perasaan rindu bukan berarti dibalas dengan suatu kerinduan pula, tetapi bagaimana rindu itu bisa membawa kita pulang, ke "rumah" kita. Karena sejatinya, sejauh manapun seorang perantau pergi, ia akan merindukan "rumah" atau asal mereka.