Semakin ke sini, saya makin paham bahwa banyak hal yang saya inginkan tetapi ternyata hal itu tidak saya butuhkan. Saya juga makin paham bahwa profesionalitas dalam bekerja menjadi salah satu hal yang terpenting. Dan, komunikasi juga menjadi faktor primer dalam hal apapun. Kenapa?
Di tahun 2017 ini, saya mulai mengurangi kegiatan organisasi dan kepanitiaan saya. "Pengen napas bentar", alasan saya setiap saya ditanyai lingkungan sekitar kenapa tidak mengikuti kepanitiaan x, y, maupun organisasi z. Ya, saya berkata yang sebenarnya, bahwa saya perlu waktu untuk rileks sejenak. Pengalaman pada tahun 2016 buat saya sudah amat cukup, karena saya memegang prinsip bahwa di manapun kita berkontribusi, sekecil apapun, maka akan berarti. Dan pada tahun ini, saya hanya mengikuti 1 organisasi (kecil, tapi bermakna) dan kurang lebih 3 kepanitiaan acara, yang salah satunya adalah kepanitiaan tingkat nasional (Alhamdulillah). Kurang lebih 6 bulan telah berlalu di tahun 2017, dan saya menyadari bahwa ternyata yang saya butuhkan bukanlah sesuatu yang selalu saya inginkan. Tahun 2016 kemarin, saya benar-benar ingin mengikuti berbagai macam kegiatan karena "menambah pengalaman dan berharap soft skill saya dapat berkembang". Telak bagi saya, saya "terpaksa" harus bisa membagi waktu di antara seabrek kegiatan dengan waktu dengan keluarga, kuliah, main, dan me time. Dan hasilnya? Tidak sesuai ekspektasi saya. Banyak dalam keadaan yang "terpaksa" hasil kinerja saya "biasa saja hingga amat buruk" dan cukup mendapat banyak kritik dari orang-orang sekitar. Dari situ saya paham bahwa, yang saya butuhkan bukan banyaknya kegiatan, tetapi bagaimana saya bisa mengimplementasikan pikiran dan tenaga saya untuk mencapai suatu kinerja yang baik. The 1st point is delivered.
Karena pada tahun 2017 ini saya banyak mengurangi kegiatan, maka saya dapat lebih baik dalam membagi fokus saya (dibandingkan dengan yang tahun sebelumnya). Tahun ini, saya terdaftar sebagai pengurus aktif di salah satu organisasi non-profit berbasis keilmuan yang ada di program studi yang saya tempuh dan saya mencurahkan hampir seluruh perhatian saya kepada organisasi ini. Kurang lebih 6 bulan telah berjalan, saya kemudian menyadari satu hal. Profesionalitas. Saat ini, saya menjadi pengamat teman-teman saya yang banyak mengikuti kegiatan (dibanding saya), dan saya melihat refleksi diri saya tahun 2016 di diri mereka sekarang. "Wah, kayaknya saya kemarin sesibuk itu, ya? Sampai kemarin-kemarin saya lupa makna profesionalitas itu apa," batin saya. Profesionalitas di sini tidak hanya ketika hubungan kamu dengan orang lain yang berada di dalam organisasi yang sama kurang baik tetapi kamu harus tetap dapat bekerja dengan orang itu, tetapi profesionalitas yang saya maksud di sini juga ialah bagaimana cara kamu dapat membagi waktu untuk mengerjakan 2-3 tanggung jawab yang kamu emban sekaligus. Terdengar berat, ya? Well, seharusnya orang-orang yang memilih untuk menjadi "orang sibuk" harus bisa menjaga profesionalitasnya. Me either, i am not that professional one, but I am trying to.
Last point, komunikasi. Well, this is the hardest point that people always forget. Kurang komunikasi? Dimaklumi. Kurang koordinasi? Dimaafkan. Padahal, menurut kacamata saya, hal itu bukan solusi yang tepat. Tetapi, ini balik lagi ke kita masing-masing, sih. Saya merasa bahwa komunikasi amatlah penting, terutama dalam dunia kerja (i said that, although what i mean is organizational & committee's world). Apa-apa, penting atau tidak, mendesak apa tidak, hal itu semua harus dikomunikasikan, dan semua orang harus bisa memanfaatkan komunikasi itu. Gak mungkin, kan, kalian punya alat komunikasi yang super canggih tetapi gak dimanfaatin dengan baik dan benar? Feels like a dumb gitu loh, hehehe. Namun, mungkin aja benar orang-orang yang bilang sekarang, "People nowadays only hear what they want to hear, instead of what they want to understand". Dan orang-orang itu banyak saya temukan sekarang, mereka hanya mendengarkan, masuk ke satu telinga keluar ke telinga satunya, kemudian, poof! Lupa. Dengar lagi. Masuk-keluar lagi. Lupa Lagi. Begitu aja terus kayak siklus rantai makanan. Menurut saya ini gak pantas buat diterusin, harus terjadi suatu perubahan biar kita sama-sama nyaman dan tenang. #EEAAA
--
Mungkin tulisan ini gak penting buat pembaca karena ini benar-benar pengalaman saya yang saya ceritakan. Saya tidak memberikan banyak solusi, walau banyak terdapat unsur kritik di tulisan ini #maapkeun. Saya sampai saat ini juga masih belajar untuk menemukan solusi atas tiap kritik yang saya lontarkan, so if you want to give me advice and critic just write it in comment. Cheers!
Wew, bu mario
ReplyDeleteMario who? wkwk.
DeleteTeguh atuhhh
DeleteBagian profesionalitas agak 'menampar', ya, mengingat baru beberapa bulan terakhir memutuskan untuk kembali aktif berorganisasi di kampus :")
ReplyDeleteKu menantikan tulisan selanjutnya ihiy
ReplyDeleteSemangat, sis. Percaya dan yakin sama Allah maka Allah akan membantu. <3
Delete