Pages - Menu

January 18, 2018

Sibuk untuk Merasa Cukup

Suatu ketika, salah satu teman saya sempat bertanya, "Han, kamu kan sibuk tuh, kamu pernah gak ngerasain kayak kosong gitu pas lagi sibuk-sibuknya?". Pas dikasih pertanyaan seperti itu, pikiran saya kemudian otomatis melakukan kilas balik dengan "kesibukan" saya sejak zaman sekolah menengah hingga kuliah ini. Dan ya, saya menyadari itu. Saya sering merasa kosong dengan kesibukan yang saya alami selama ini. "Kira-kira alasannya apa, Han?"
---
Selama ini, mulai saya berusia belasan (alias duduk di sekolah menengah pertama), saya berusaha untuk selalu "sibuk". "Pengen belajar sebaik-baiknya, punya pengalaman sebanyak-banyaknya, tanpa melewatkan setiap kesempatan. You only live once," begitu kira-kira pembelaan saya setiap ditanya kenapa selalu sibuk. Mungkin benar, kita tidak boleh menyia-nyiakan "hidup cuma sekali" di muka Bumi, tapi rasa-rasanya, hal itu menjadi salah, saat kita gunakan kesempatan yang diberikan hanya untuk mengejar hal yang bersifat duniawi saja, yang baru saya sadari akhir-akhir ini. Saya menyadari bahwa ternyata saya selalu mengutamakan hal duniawi, selalu berpikir bahwa hanya saya yang dapat mengerti diri saya sendiri, hanya selalu sibuk untuk memperbaiki diri agar terlihat "baik" di depan orang lain, Astagfirullahaladzhiim. Mungkin itu adalah alasan kenapa saya sering merasa kosong saat lagi sibuk. Selalu merasa ada yang kurang dan tidak pernah puas atas pencapaian saya. Karena saya kurang mendekatkan diri ke Allah swt.
Setelah kembali berpikir, mulai belajar sedikit demi sedikit, mulai open minded, mulai berdiskusi dengan beberapa orang yang "lingkarannya" beda dengan saya, saya kemudian menyadari hal yang saya lakukan dahulu salah. Yang saya pahami saat ini adalah, semua orang hanya perlu satu hal. Merasa cukup dan bersyukur dengan diberikan kesempatan untuk hidup di muka Bumi. Ketika orang sudah merasa cukup, rasa-rasanya segala kesibukan atas hal duniawi tidak menjadi lagi beban yang sangat berat, karena kita sudah berusaha dan bertawakkal kepada Allah swt., kita udah menyerahkan sepenuhnya kepada Allah swt. Lalu, bagaimana dengan definisi merasa cukup itu? Menurut saya, cukup adalah kita tahu batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah untuk kita, udah tau kapan kita harus berhenti, kapan kita harus melanjutkan, kapan kita harus memulai. Dengan cara apa kita mengetahui itu? Bersyukur. Bersyukur karena Allah dengan rahmat-Nya telah memberikan kita karunia yang luar biasa untuk tetap survive di Bumi. Bersyukur karena kita merupakan makhluk yang memang sedianya diciptakan oleh Allah untuk terus beribadah kepada-Nya. Bukankah kita diciptakan hidup di Bumi untuk berlomba-lomba melakukan kebaikan? Maka, mari kita menyibukkan diri dengan melakukan hal-hal yang menurut kita "baik". Karena sesungguhnya, menurut saya, orang yang paling tau keadaan diri kita adalah diri kita sendiri. Kita yang tahu kelebihan kita apa, kekurangan kita apa. Manfaatkan kelebihan kita untuk melakukan kebaikan, dan perbaiki kekurangan dengan terus belajar dan belajar. Untuk menutupi rasa kosong dan kurang puas, yuk, belajar dan berusaha lagi. Belajar lagi untuk terus bersyukur dengan segala yang kita punya. Berusaha lagi untuk lebih dekat dengan Allah swt. Insya Allah, jika niat kita tulus dan ikhlas dalam segala kesibukan yang kita punya, Allah akan memberi feedback yang luar biasa. Tetap semangat dan jangan lupa bersyukur. :)

No comments:

Post a Comment