Pages - Menu

December 31, 2018

Sebuah Surat Dariku untuk Diriku

Captured by Mahendra Diwa
Dear, Jihan.
Terima kasih untuk tahun 2018-nya.
Terima kasih untuk terus kuat menjalani 2018.
Aku tahu, apa yang kamu jalani di tahun ini tidak mudah.
Kamu belajar bagaimana arti memahami orang lain dan menerima perbedaan.
Kamu belajar bagaimana tidak menjadi orang yang egosentris.
Kamu belajar bagaimana untuk menerima, merelakan, dan mengkihlaskan suatu hal yang bahkan menyakitimu.
Kamu belajar bagaimana untuk terus bersyukur dan mengingat-Nya dalam setiap langkah yang kamu ambil.
Kamu belajar untuk mengontrol emosi dan egomu.
Kamu belajar bagaimana untuk tetap tersenyum dan menyenangkan walau kamu sedang rapuh.
Kamu dengan tabah, dapat menjalani itu semua.
Aku tahu betul, terkadang kamu sudah ingin berhenti. Tapi aku tahu, kamu selalu bisa bangkit dari segala yang terjadi.
Terima kasih, tahun ini kamu mau mengubah hal-hal yang memang perlu diubah.
Terima kasih, tahun ini kamu tidak ingin menyakiti diri kamu lagi.
Terima kasih, tahun ini kamu melalui semuanya dengan ikhlas.
Jihan,
Bisakah tahun 2019 nanti dapat berjalan lebih baik?
Bisakah di tahun 2019 asa, harapan, dan cita akan terwujud?
Kita belum tahu pasti.
Tapi aku percaya, kamu pun. Kita tidak akan pernah tahu jika belum pernah mencobanya.
Semoga lebih dikuatkan, ya, Jihan.
Semoga apa yang telah disemogakan dapat terwujud.
Regards,
Dirimu di tahun 2018 yang percaya selalu ada yang terbaik

October 25, 2018

twenty five of the twenty one.

"Semoga bahagia selalu, Han."
"Jangan lupa untuk bahagia!"
"Semoga segera menemukan yang bisa saling membahagiakan."
"Bahagianya harus penuh, ya, Han!"

Di atas adalah beberapa contoh perhatian doa dari teman-temanku pada hari yang selalu kutunggu-tunggu tiap tahun, yang intinya, mereka mendoakan aku untuk bahagia. Memang, pada beberapa waktu belakangan ini, terjadi riak yang cukup besar dalam hidup, dan aku, harus bisa menerjangnya, karena tidak ingin tengggelam di dalamnya. Adanya harapan-harapan agar aku bahagia mengingatkan bahwa aku memang harus bahagia. 

Aku
Harus
Bahagia
Aku pernah berkata kepada seseorang yang waktu itu menorehkan luka paling dalam di hidupku. Aku berkata, "aku akan bahagia bila kamu bahagia dengan pilihan yang kamu ambil". Namun, sepertinya, kalimat itu perlu ku perbaiki, karena aku sadar aku tidak boleh menggantungkan bahagia-ku kepada siapapun dan apapun. Aku bahagia karena itu pilihanku, aku bahagia karena diriku sendiri, dan aku bahagia karena masih ada orang-orang keren nan baik hati yang senantiasa mendampingiku.

"Someday I will create my own happiness with my own way, too," also me said to him.
And, yeah, I'll start it. From today. Until forever. To create my own happiness.

August 21, 2018

Jakarta dalam Perspektif

Untuk sebagian orang, Jakarta mungkin kejam. Ternyata tidak.
Jakarta hanya kejam kepada orang-orang yang senang mengeluh, yang tak mau mengeluarkan peluh.

Untuk sebagian orang, Jakarta mungkin keras. Ternyata tidak.
Jakarta hanya keras kepada orang-orang yang berhati keras, menarik diri dari kenyataan.

Untuk sebagian orang, Jakarta terlalu kaku. Ternyata tidak.
Jakarta hanya kaku kepada orang-orang yang tidak menerima kenyataan hidupnya.

Untuk sebagian orang, Jakarta terlalu sempit. Ternyata tidak.
Jakarta hanya sempit untuk orang-orang yang tak berani keluar dari kotaknya.

Untuk sebagian orang, Jakarta menakutkan. Ternyata tidak.
Jakarta hanya menakutkan untuk orang-orang yang tak berani melawan egonya.

Untuk sebagian orang, Jakarta tidak ideal. Ternyata tidak.
Jakarta hanya tidak ideal untuk orang-orang yang tidak menganggapnya sebagai rumah.



Ah, Jakarta.
Terima kasih untuk pengalaman berharganya.
Terima kasih untuk pembelajarannya.
Terima kasih karena telah menjadi Jakarta.

August 17, 2018

Berlayar atau Buyar?


Menghadapi tahun pesta demokrasi nanti, tak akan banyak pinta dan harap yang terpikirkan.

Semoga, siapapun pemimpin bangsa yang terpilih, dapat menahkodai kapal NKRI ini.
Semoga, setelah masa pemilihan, tak ada lagi suara sumbang ujaran kebencian, sahut-menyahut, membela-mencela, menyalah-benarkan pendapat yang sebenarnya amat subjektif.
Dan,
semoga,
terpilih atau tidak pemimpin yang kita mau,
setelahnya
tak akan ada
"aduh, tau gitu gue milihnya yang sebelah aja kemarin, kenapa malah jadi gini, sih, Indonesia"
di akhir 2023 - awal 2024 nanti.

Nahkoda tegas dan bijak memang perlu,
tapi ditemani oleh awak & kru yang terus saling benci dan dendam demi ambisi pribadi,
tanpa adanya satupun awak & kru yang cakap dan cerdas,
apakah bisa kapal NKRI akan terus berlayar?

July 25, 2018

Adilkah Dunia pada Kita?

Mungkin, beberapa kali kita bepikir bahwa dunia tak adil pada diri kita.
Tapi pernahkah terlintas pemikiran bahwa sebenarnya kitalah yang tidak adil pada dunia?
--
Beberapa hari terakhir, saya merasa terdapat suatu kekosongan dalam hidup yang harus terisi. Terdapat sesuatu yang harus saya ubah dari diri saya. Terdapat sesuatu yang ternyata telah berubah dari saya.
Kurang lebih setahun terakhir saya mengalami berbagai masalah khas proses pendewasaan, yang saya pikir tak akan kunjung selesai. Saya paham betul apa yang seharusnya saya lakukan untuk tetap melangkah maju, bahkan berlari, yaitu menganggap masalah-masalah itu sudah berlalu dan usai. Tapi di satu sisi, selalu ada rasa yang membuat saya tertahan, seperti judul lagu dari Justin Bieber, stuck in the moment. Ya, saya merasa bahwa saya beberapa hari kemarin terjebak pada masalah yang itu-itu saja, karena saya tidak pernah mengikhlaskan, merelakan, dan menerima yang terjadi.
Kegemaran saya untuk terjebak pada satu masalah mungkin salah satu hal yang harus saya ubah. Saya paham hal-hal yang harus saya lakukan agar tidak terjebak, tetapi mental saya tidak cukup kuat untuk melakukannya. Mungkin beberapa orang yang mengenal saya akan memiliki impression bahwa saya kuat, saya dewasa, saya dapat diandalkan. Tapi, apa yang saya rasa dalam diri, semuanya tidak sepenuhnya benar. Saya masih lemah, masih kekanak-kanakan, dan tidak dapat diandalkan.
Namun, pada beberapa hari terakhir, saya senang bertukar pikiran dengan beberapa teman yang dapat saya andalkan, menonton belasan video motivasi (thank’s to TED and TEDx, videonya mantap-mantap, euy), dan hal terakhir yang saya lakukan adalah berani jujur kepada diri sendiri. Bukan menyalahkan diri sendiri, tetapi bertanya kepada diri sendiri, hal apa yang saya sangat butuhkan untuk tetap melangkah maju dan mencapai cita. Setelah melakukannya, baru saya merasa ada angin segar yang menerpa. Mungkin beberapa hari ke depan akan mengalami fluktuasi, tapi saya merasa ini adalah suatu awalan yang baru untuk saya, dan saya mencoba untuk paham selalu ada ups and downs dalam hidup seseorang.
Saya yang kemarin berpikir bahwa rasanya dunia ini sangat tidak adil kepada saya karena telah menyodorkan masalah, sekarang berpikir bahwa sayalah yang tidak adil pada dunia, yang semakin tersadarkan karena ujaran seorang teman,
"Dunia sudah adil dengan memberi segala ketidakadilan kepada seluruh isinya." 
Sayalah yang tidak adil karena dengan semena-mena telah menyalahkan dunia, padahal sayalah yang tidak mampu untuk tidak mengganggap sesuatu tersebut sebagai masalah. Hati dan pikiran saya kemarin terlalu sempit, padahal dunia telah sangat baik dengan segala fiturnya yang memberikan kesempatan untuk menikmati hidup. Ternyata, kitalah yang membatasi diri kita kepada dunia, bukan dunia yang memberikan batasan kepada kita. Dunia telah bekerja sebagaimana yang diatur oleh Allah Swt., kemudian selebihnya kembali pada kita, bagaimana kita menikmati dunia ini dengan ikhlas dan rela untuk menerima, tanpa menuntut yang banyak. We can do everything, we can learn everything, we can achieve everything.


We can’t change the whole world, but we can change ours. Our own world.


July 11, 2018

Amarah

Hasil gambar untuk coldplay concert
by Google

"When you get what you want but not what you need"
Fix You by Coldplay
Penggalan lirik di atas mengingatkan saat berada pada situasi emosi atau saat amarah sedang memuncak.

Selalu ada kepuasan yang diperoleh setelah meluapkan amarah,
tetapi tak pernah ada kelegaan setelahnya.

Selalu ada rasa kemenangan yang diperoleh setelah meluapkan amarah,
tetapi kemudian selalu diikuti rasa penyesalan.

Selalu ada perasaan yang hilang saat meluapkan amarah,
dan tak akan pernah tergantikan oleh apapun.

Kosong,
dan menjadi tak berharga.

June 30, 2018

Hati dan Pikiran





Semesta mengajarkan bahwa tak selamanya orang yang selalu ada untuk kita akan tetap ada. Adanya jarak yang memisahkan semakin meyakinkan diri untuk tetap maju ke depan tanpa melihat ke belakang, seperti apa yang diharapkan oleh pikiran. Sementara hati sakit, ia pun mengalah kepada pikiran. Ingin dirawat karena lukanya sudah memborok, mau tidak mau pikiran yang mengambil alih seluruh tugasnya. 

Cinta.
Tak pernah ada kejelasan di dalamnya. Sedalam apapun pikiran menyelaminya, ia tak akan pernah menemukan kejelasan itu.
Sedangkan hati, dengan caranya sendiri, dapat memahami cinta. Walau itu harus menyakitinya, karena kesakitan itulah yang membuat dia semakin kuat.

May 22, 2018

How's Your Day?

"How's your day?"

(I am sick. Literally sick. Physically, mentally, and also my mind. I want to believe in you again, but somehow I can't. I want to let you go, but I can't. I want to forget all those sweet things, but it makes me more in pain. I am trying to heartless, but I realized you still get that place in my heart. I want to go far away from you, but I know I won't. It's a curse, but I know you're my cure. Meanwhile, you don't realize it all. You still selfish with your opinion, with your anger, with all those your assuming true things. How can I get such a good day while you still ruin it? How can I let you go if you still don't want to go from me? How long I must pretend that I am okay with these sucks conditions? Can you get a seat beside me then I will make you a cup of coffee so you can start to tell me all the truths  for the last time without demanding me to accept you again?)
-
"Such a nice day, how's yours?"

"Very fine, because you're here. With me."

(Hearing a bullshit again).
":-)".

January 18, 2018

Sibuk untuk Merasa Cukup

Suatu ketika, salah satu teman saya sempat bertanya, "Han, kamu kan sibuk tuh, kamu pernah gak ngerasain kayak kosong gitu pas lagi sibuk-sibuknya?". Pas dikasih pertanyaan seperti itu, pikiran saya kemudian otomatis melakukan kilas balik dengan "kesibukan" saya sejak zaman sekolah menengah hingga kuliah ini. Dan ya, saya menyadari itu. Saya sering merasa kosong dengan kesibukan yang saya alami selama ini. "Kira-kira alasannya apa, Han?"
---
Selama ini, mulai saya berusia belasan (alias duduk di sekolah menengah pertama), saya berusaha untuk selalu "sibuk". "Pengen belajar sebaik-baiknya, punya pengalaman sebanyak-banyaknya, tanpa melewatkan setiap kesempatan. You only live once," begitu kira-kira pembelaan saya setiap ditanya kenapa selalu sibuk. Mungkin benar, kita tidak boleh menyia-nyiakan "hidup cuma sekali" di muka Bumi, tapi rasa-rasanya, hal itu menjadi salah, saat kita gunakan kesempatan yang diberikan hanya untuk mengejar hal yang bersifat duniawi saja, yang baru saya sadari akhir-akhir ini. Saya menyadari bahwa ternyata saya selalu mengutamakan hal duniawi, selalu berpikir bahwa hanya saya yang dapat mengerti diri saya sendiri, hanya selalu sibuk untuk memperbaiki diri agar terlihat "baik" di depan orang lain, Astagfirullahaladzhiim. Mungkin itu adalah alasan kenapa saya sering merasa kosong saat lagi sibuk. Selalu merasa ada yang kurang dan tidak pernah puas atas pencapaian saya. Karena saya kurang mendekatkan diri ke Allah swt.
Setelah kembali berpikir, mulai belajar sedikit demi sedikit, mulai open minded, mulai berdiskusi dengan beberapa orang yang "lingkarannya" beda dengan saya, saya kemudian menyadari hal yang saya lakukan dahulu salah. Yang saya pahami saat ini adalah, semua orang hanya perlu satu hal. Merasa cukup dan bersyukur dengan diberikan kesempatan untuk hidup di muka Bumi. Ketika orang sudah merasa cukup, rasa-rasanya segala kesibukan atas hal duniawi tidak menjadi lagi beban yang sangat berat, karena kita sudah berusaha dan bertawakkal kepada Allah swt., kita udah menyerahkan sepenuhnya kepada Allah swt. Lalu, bagaimana dengan definisi merasa cukup itu? Menurut saya, cukup adalah kita tahu batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah untuk kita, udah tau kapan kita harus berhenti, kapan kita harus melanjutkan, kapan kita harus memulai. Dengan cara apa kita mengetahui itu? Bersyukur. Bersyukur karena Allah dengan rahmat-Nya telah memberikan kita karunia yang luar biasa untuk tetap survive di Bumi. Bersyukur karena kita merupakan makhluk yang memang sedianya diciptakan oleh Allah untuk terus beribadah kepada-Nya. Bukankah kita diciptakan hidup di Bumi untuk berlomba-lomba melakukan kebaikan? Maka, mari kita menyibukkan diri dengan melakukan hal-hal yang menurut kita "baik". Karena sesungguhnya, menurut saya, orang yang paling tau keadaan diri kita adalah diri kita sendiri. Kita yang tahu kelebihan kita apa, kekurangan kita apa. Manfaatkan kelebihan kita untuk melakukan kebaikan, dan perbaiki kekurangan dengan terus belajar dan belajar. Untuk menutupi rasa kosong dan kurang puas, yuk, belajar dan berusaha lagi. Belajar lagi untuk terus bersyukur dengan segala yang kita punya. Berusaha lagi untuk lebih dekat dengan Allah swt. Insya Allah, jika niat kita tulus dan ikhlas dalam segala kesibukan yang kita punya, Allah akan memberi feedback yang luar biasa. Tetap semangat dan jangan lupa bersyukur. :)