Pages - Menu

December 15, 2022

Mengenali Diri Sendiri

Di sudut kafe itu, seseorang sedang menikmati waktunya.
Mulai mengeluarkan earphone dan memasang playlist lagu yang disukainya.
Sembari mulai menikmati milk-based coffee andalannya.
Tidak bercengkrama dengan siapapun, sibuk dengan dirinya sendiri.
Memikirkan apa yang akan terjadi ke depan.
Merasa was-was dengan apa yang dihadapinya sekarang.
Semuanya berlalu dengan cepat, menurutnya.
Tidak sanggup melihat ke belakang, terlalu jauh untuknya.
Tidak berani melihat ke depan, takut katanya.

Tahun ini, banyak kejadian yang dialaminya.
Sebagai proses pendewasaaan diri, ia menghadapi dan melaluinya sendirian.
Berusaha untuk tidak bergantung kepada siapapun, bahkan mengenai kebahagiaannya sekalipun, ia berusaha keras.
Belajar bagaimana menjadi tangguh walau tetap harus mengikuti arus. Setidaknya, ia masih punya pendirian. Menurutnya begitu.
Berjuang menaklukkan semua harapan dan cita-cita yang ditargetkan. Lebih banyak gagalnya, tapi dia tahu dia sudah mengusahakan yang terbaik. Masalah hasil, ia pasrahkan kepada Sang Pencipta.
Orang-orang silih berganti datang dan pergi di hidupnya. Ada yang bertahan, tapi rasanya hanya itu-itu saja. Tapi ia bersyukur, setidaknya tidak perlu susah payah untuk menjadi orang lain agar tetap memiliki kawan.

Lihatlah, sekarang dia bisa berdiri dengan kakinya sendiri.
Tentu perlu penopang dan dukungan dari orang-orang terkasih, tapi rasa-rasanya dia sudah tahu mau jadi apa dirinya ke depan nanti. Masih blur, tapi dia yakin untuk jadi lebih baik dari dirinya saat ini.


Kembali, dia termangu. Berkontemplasi di sudut kafe. Seperti yang sering ia lakukan. 
Hal yang paling ia nikmati dan ia syukuri, karena akhirnya bisa mengenali dirinya sendiri. 
Berterima kasih dan mengapresiasi diri karena telah menjadi dirinya sendiri, yang tidak pernah berhenti untuk selalu menemukan dan melakukan hal baik.

October 25, 2021

Si Perempuan Sulung

Ia menjadi saksi bagaimana orang tuanya mengenali satu sama lain di awal pernikahan mereka.

Ia menjadi anak yang memahami perjuangan orang tuanya membahagiakannya.
Ia tumbuh menjadi anak yang menghargai kedua orang tuanya, tak pernah terpikirkan untuk melawan orang tuanya.
Karena ia tahu pengorbanan orang tua untuk keluarga kecil mereka.

Ia menjadi tumpuan untuk adik-adiknya.
Ia berusaha tak takut apa pun, menjadi kuat, tangguh, namun terus belajar bersabar dan rendah hati.
Karena ia tahu, adik-adiknya akan mencontoh sikap dan perilakunya.

Ia mencoba untuk menggapai mimpi-mimpinya.
Berjalan sendiri, belajar menjadi yang terbaik, berusaha sepenuh hati untuk menjadi yang sukses, karena ia tahu, seluruh mata akan memandangi keluarganya melalui dia. Karena dia si nomor satu.

Namun,
ia tak sekuat yang terlihat.
tak sesabar yang ia terus latih.
Ia kadang membutuhkan pegangan dan tumpuan lain, tetapi tetap bersikeras untuk bisa berjalan sendiri.

Menjadi si perempuan sulung memang tak pernah mudah. Selalu ada tekanan untuknya. Entah dari sekitarnya, atau dirinya sendiri. Namun, ia berusaha mengabaikan itu dan tetap berjalan lurus sesuai keinginannya.

Si perempuan sulung. Si keras kepala, berkeinginan kuat, tangguh, (mencoba) mandiri, namun selalu mengingat kodratnya sebagai perempuan. 

Bukankah perempuan dipandang sebagai si lemah?

Tetapi, si perempuan sulung tak pernah mengamininya. Karena ia tahu bahwa ia kuat, ia tangguh, dan bisa memilih jalan hidupnya sendiri.



March 26, 2020

this too, shall pass

Tiga bulan pertama tahun 2020 yang sangat berat jika dijadikan beban, sangat besar jika dijadikan halangan, tetapi sangat berharga jika dijadikan pembelajaran.

Cuaca yang tidak lagi menentu, kabar duka dari berbagai tokoh dan panutan, hingga pandemi yang menyerang dunia. Makin ke sini, makin terasa bahwa manusia memang tidak ada apa-apanya. Semuanya hanya bisa berserah setelah berusaha, tapi mungkin ada beberapa yang hanya berusaha dan/atau berserah saja.

Jarak menuju impian terasa sangat jauh. Jangankan menuju impian, untuk sekadar bersua dengan kerabat dan sahabat pun terasa jauh sekarang ini.

Membuat suatu keputusan penting pun terasa sangat sulit. Jangankan membuat suatu keputusan, untuk sekadar tidak merasakan gelisah dan panik pun terasa sulit sekarang ini.

Namun, manusia bisa apa selain bersabar?
Bisa apa selain memilih untuk berdamai dengan keadaan?
Bisa apa selain percaya bahwa semua ini juga pasti akan berlalu?
Bisa apa selain tetap berjuang dalam kebaikan?

Biarkan Tuhan yang menjawabnya. 
Ia telah menitipkan kepada Sang Waktu.
Kepada diri, bersabarlah.
Kepada diri, berdamailah.
Kepada diri, percayalah.
Kepada diri, berjuanglah.
This too, shall pass.