"Jangan lupa untuk bahagia!"
"Semoga segera menemukan yang bisa saling membahagiakan."
"Bahagianya harus penuh, ya, Han!"
Di atas adalah beberapa contoh perhatian doa dari teman-temanku pada hari yang selalu kutunggu-tunggu tiap tahun, yang intinya, mereka mendoakan aku untuk bahagia. Memang, pada beberapa waktu belakangan ini, terjadi riak yang cukup besar dalam hidup, dan aku, harus bisa menerjangnya, karena tidak ingin tengggelam di dalamnya. Adanya harapan-harapan agar aku bahagia mengingatkan bahwa aku memang harus bahagia.
Aku
Harus
Bahagia
Aku pernah berkata kepada seseorang yang waktu itu menorehkan luka paling dalam di hidupku. Aku berkata, "aku akan bahagia bila kamu bahagia dengan pilihan yang kamu ambil". Namun, sepertinya, kalimat itu perlu ku perbaiki, karena aku sadar aku tidak boleh menggantungkan bahagia-ku kepada siapapun dan apapun. Aku bahagia karena itu pilihanku, aku bahagia karena diriku sendiri, dan aku bahagia karena masih ada orang-orang keren nan baik hati yang senantiasa mendampingiku.
"Someday I will create my own happiness with my own way, too," also me said to him.
And, yeah, I'll start it. From today. Until forever. To create my own happiness.