Pages - Menu

July 25, 2018

Adilkah Dunia pada Kita?

Mungkin, beberapa kali kita bepikir bahwa dunia tak adil pada diri kita.
Tapi pernahkah terlintas pemikiran bahwa sebenarnya kitalah yang tidak adil pada dunia?
--
Beberapa hari terakhir, saya merasa terdapat suatu kekosongan dalam hidup yang harus terisi. Terdapat sesuatu yang harus saya ubah dari diri saya. Terdapat sesuatu yang ternyata telah berubah dari saya.
Kurang lebih setahun terakhir saya mengalami berbagai masalah khas proses pendewasaan, yang saya pikir tak akan kunjung selesai. Saya paham betul apa yang seharusnya saya lakukan untuk tetap melangkah maju, bahkan berlari, yaitu menganggap masalah-masalah itu sudah berlalu dan usai. Tapi di satu sisi, selalu ada rasa yang membuat saya tertahan, seperti judul lagu dari Justin Bieber, stuck in the moment. Ya, saya merasa bahwa saya beberapa hari kemarin terjebak pada masalah yang itu-itu saja, karena saya tidak pernah mengikhlaskan, merelakan, dan menerima yang terjadi.
Kegemaran saya untuk terjebak pada satu masalah mungkin salah satu hal yang harus saya ubah. Saya paham hal-hal yang harus saya lakukan agar tidak terjebak, tetapi mental saya tidak cukup kuat untuk melakukannya. Mungkin beberapa orang yang mengenal saya akan memiliki impression bahwa saya kuat, saya dewasa, saya dapat diandalkan. Tapi, apa yang saya rasa dalam diri, semuanya tidak sepenuhnya benar. Saya masih lemah, masih kekanak-kanakan, dan tidak dapat diandalkan.
Namun, pada beberapa hari terakhir, saya senang bertukar pikiran dengan beberapa teman yang dapat saya andalkan, menonton belasan video motivasi (thank’s to TED and TEDx, videonya mantap-mantap, euy), dan hal terakhir yang saya lakukan adalah berani jujur kepada diri sendiri. Bukan menyalahkan diri sendiri, tetapi bertanya kepada diri sendiri, hal apa yang saya sangat butuhkan untuk tetap melangkah maju dan mencapai cita. Setelah melakukannya, baru saya merasa ada angin segar yang menerpa. Mungkin beberapa hari ke depan akan mengalami fluktuasi, tapi saya merasa ini adalah suatu awalan yang baru untuk saya, dan saya mencoba untuk paham selalu ada ups and downs dalam hidup seseorang.
Saya yang kemarin berpikir bahwa rasanya dunia ini sangat tidak adil kepada saya karena telah menyodorkan masalah, sekarang berpikir bahwa sayalah yang tidak adil pada dunia, yang semakin tersadarkan karena ujaran seorang teman,
"Dunia sudah adil dengan memberi segala ketidakadilan kepada seluruh isinya." 
Sayalah yang tidak adil karena dengan semena-mena telah menyalahkan dunia, padahal sayalah yang tidak mampu untuk tidak mengganggap sesuatu tersebut sebagai masalah. Hati dan pikiran saya kemarin terlalu sempit, padahal dunia telah sangat baik dengan segala fiturnya yang memberikan kesempatan untuk menikmati hidup. Ternyata, kitalah yang membatasi diri kita kepada dunia, bukan dunia yang memberikan batasan kepada kita. Dunia telah bekerja sebagaimana yang diatur oleh Allah Swt., kemudian selebihnya kembali pada kita, bagaimana kita menikmati dunia ini dengan ikhlas dan rela untuk menerima, tanpa menuntut yang banyak. We can do everything, we can learn everything, we can achieve everything.


We can’t change the whole world, but we can change ours. Our own world.


July 11, 2018

Amarah

Hasil gambar untuk coldplay concert
by Google

"When you get what you want but not what you need"
Fix You by Coldplay
Penggalan lirik di atas mengingatkan saat berada pada situasi emosi atau saat amarah sedang memuncak.

Selalu ada kepuasan yang diperoleh setelah meluapkan amarah,
tetapi tak pernah ada kelegaan setelahnya.

Selalu ada rasa kemenangan yang diperoleh setelah meluapkan amarah,
tetapi kemudian selalu diikuti rasa penyesalan.

Selalu ada perasaan yang hilang saat meluapkan amarah,
dan tak akan pernah tergantikan oleh apapun.

Kosong,
dan menjadi tak berharga.