Mungkin, beberapa kali
kita bepikir bahwa dunia tak adil pada diri kita.
Tapi pernahkah
terlintas pemikiran bahwa sebenarnya kitalah yang tidak adil pada dunia?
--
Beberapa hari terakhir, saya merasa terdapat suatu kekosongan
dalam hidup yang harus terisi. Terdapat sesuatu yang harus saya ubah dari diri
saya. Terdapat sesuatu yang ternyata telah berubah dari saya.
Kurang lebih setahun terakhir saya mengalami berbagai masalah khas proses pendewasaan, yang saya pikir
tak akan kunjung selesai. Saya paham betul apa yang seharusnya saya lakukan
untuk tetap melangkah maju, bahkan berlari, yaitu menganggap masalah-masalah itu sudah berlalu dan usai. Tapi di satu sisi, selalu ada rasa yang membuat
saya tertahan, seperti judul lagu dari Justin Bieber, stuck in the moment. Ya, saya merasa
bahwa saya beberapa hari kemarin terjebak pada masalah yang itu-itu saja, karena saya tidak pernah mengikhlaskan, merelakan, dan menerima yang terjadi.
Kegemaran saya untuk terjebak pada satu masalah mungkin salah satu hal yang harus saya ubah. Saya paham
hal-hal yang harus saya lakukan agar tidak terjebak, tetapi mental saya tidak
cukup kuat untuk melakukannya. Mungkin beberapa orang yang mengenal saya akan
memiliki impression bahwa saya kuat,
saya dewasa, saya dapat diandalkan. Tapi, apa yang saya rasa dalam diri,
semuanya tidak sepenuhnya benar. Saya masih lemah, masih kekanak-kanakan, dan
tidak dapat diandalkan.
Namun, pada beberapa hari terakhir, saya senang bertukar pikiran dengan
beberapa teman yang dapat saya andalkan, menonton belasan video motivasi (thank’s
to TED and TEDx, videonya mantap-mantap, euy), dan hal terakhir yang saya
lakukan adalah berani jujur kepada diri sendiri. Bukan menyalahkan diri
sendiri, tetapi bertanya kepada diri sendiri, hal apa yang saya sangat butuhkan
untuk tetap melangkah maju dan mencapai cita. Setelah melakukannya, baru saya
merasa ada angin segar yang menerpa. Mungkin beberapa hari ke depan akan
mengalami fluktuasi, tapi saya merasa ini adalah suatu awalan yang baru untuk
saya, dan saya mencoba untuk paham selalu ada ups and
downs dalam hidup seseorang.
Saya yang kemarin berpikir bahwa rasanya dunia ini sangat tidak adil
kepada saya karena telah menyodorkan masalah, sekarang berpikir bahwa sayalah
yang tidak adil pada dunia, yang semakin tersadarkan karena ujaran seorang teman,
"Dunia sudah adil dengan memberi segala ketidakadilan kepada seluruh isinya."Sayalah yang tidak adil karena dengan semena-mena telah menyalahkan dunia, padahal sayalah yang tidak mampu untuk tidak mengganggap sesuatu tersebut sebagai masalah. Hati dan pikiran saya kemarin terlalu sempit, padahal dunia telah sangat baik dengan segala fiturnya yang memberikan kesempatan untuk menikmati hidup. Ternyata, kitalah yang membatasi diri kita kepada dunia, bukan dunia yang memberikan batasan kepada kita. Dunia telah bekerja sebagaimana yang diatur oleh Allah Swt., kemudian selebihnya kembali pada kita, bagaimana kita menikmati dunia ini dengan ikhlas dan rela untuk menerima, tanpa menuntut yang banyak. We can do everything, we can learn everything, we can achieve everything.
We can’t change the whole world, but we can change ours. Our own world.
