Pages - Menu

July 18, 2017

Be Yourself

Semakin bertambah umur (dan berkurangnya kesempatan menuai kebaikan) di dunia, saya makin memahami bahwa apa yang orang sering katakan adalah benar apa adanya.
Just be yourself.
Mungkin teman-teman telah membaca tulisan maupun mendengar omongan tentang "menjadi diri sendiri". Kali ini, saya akan mencoba menulis menurut kacamata saya (saya lebih suka nulis kacamata daripada sudut pandang, mungkin karena saya seorang pengguna kacamata *krik). Semakin ke sini saya paham bahwa menjadi diri sendiri itu sangat penting. Bukan berarti bahwa menjadi diri sendiri itu kita dapat melakukan berbagai hal sendirian, atau kita tidak membutuhkan bantuan dan kehadiran orang lain, atau kita dapat bertindak seenaknya, tapi menjadi diri sendiri yang saya maksud di sini adalah "jadilah diri sendiri seperti yang kamu impikan". Gak paham, ya? Saya juga cukup sulit untuk menguraikannya, but lemme try.
Dewasa ini, banyak orang dengan sengaja "memaksakan" diri untuk dapat masuk di golongan tertentu. Dewasa ini, banyak anak SD-SMP yang "memaksakan" diri terlihat "lebih dewasa" agar ia diterima di lingkungan sekitarnya. Dewasa ini, banyak orang yang belum paham dengan dirinya dan sekitarnya, tetapi berlagak mahfum dan otaknya "berisi" agar dia menjadi viral dan terkenal.
Dunia ini fana, kawan. Dunia ini tipuan, sementara, tidak kekal. Kalau kalian masih saja berusaha untuk menjadi orang lain untuk tetap eksis di dunia, maka ingatlah apapun yang ada di dunia ini tidak kekal dan tidak ada artinya dibanding kehidupan di akhirat yang telah dijanjikan Allah swt. Tanpa menjadi orang lain, pun, kita sebenarnya dapat tetap hidup di dunia, malah menjadi lebih asik, nyaman, dan tentram. Tidak percaya?
Saya beberapa tahun yang lalu mungkin cukup berbeda dengan yang sekarang. Teman-teman saya datang silih berganti, hanya beberapa saja yang masih bertahan di posisinya. Ya, perlahan-lahan, saya telah menemukan suatu lingkaran nyaman saya, yang hanya berisi orang-orang yang saya bisa anggap "teman baik" dan "sahabat" serta dapat menerima diri saya yang sebenarnya. Tidak banyak, tapi tetap saya mensyukurinya lebih dari apapun. Saya merasa, dulu saya tidak menjadi diri saya sendiri. Saya suka mengikuti pola pikir, tingkah laku, style orang-orang di sekitar saya, dengan harapan saya bisa masuk di lingkaran mereka. Saya dulu suka mengkhianati dan membohongi diri saya sendiri, menganggap apa yang saya lakukan adalah benar dan dibutuhkan. Ternyata yang saya lakukan bertahun-tahun itu adalah sebuah kesia-siaan. Saya tetap tidak bisa masuk di lingkaran mereka, dan saya tidak nyaman dengan diri saya sendiri. Saya ternyata sering melukai perasaan dan diri saya sendiri dengan segala tingkah laku saya. Saya kemudian menarik diri saya, mencoba menjauh, dan kembali memahami diri saya sendiri. 
Apa yang diri saya mau sebenarnya? Hal ini menjadi pertanyaan besar saya. Saya mengamati lingkungan sekitar, kemudian merefraksikannya ke diri saya. Ternyata, yang saya mau adalah saya tetap dianggap ada oleh sekitar, tetapi dengan menjadi diri saya sendiri. Saya tidak perlu menjadi orang lain agar diterima di lingkungan manapun. Dan hal ini yang sedang saya coba implementasikan di kehidupan sekarang.
Kawan, menjadi diri sendiri itu penting. Tetapi, jadilah diri sendiri yang dapat bertanggung jawab dengan pilihan. Jadilah diri sendiri yang menghargai dan mencintai dirinya sendiri. Jadilah diri sendiri yang dapat memaknai hidup dengan baik. Jadilah diri sendiri dengan menjalankan kehidupan dengan sederhana dan simpel. Jadilah diri sendiri yang dapat menempatkan ego dan rasa dengan baik. Jadilah diri sendiri yang dapat menghargai dan menghormati orang lain. Jadilah diri sendiri dengan prinsip-prinsip kehidupan yang baik. Maka, kamu dapat memahami bahwa dunia ini jauh lebih indah walau bersifat sementara, karena yang kekal hanyalah akhirat. Kamu dapat memahami bahwa dunia merupakan kesempatan yang diberikan untuk menyiapkan bekal untuk kehidupan kekal nanti, layaknya kamu menyiapkan bekal untuk suatu perjalanan panjang.
Intinya, apapun yang kamu lakukan, apapun yang kamu inginkan, apapun yang kamu citakan, ingatlah bahwa orang-orang akan lebih menerima diri kamu apabila kamu menjadi diri kamu sendiri. Just be brave to do it as simple as you be yourself.

July 3, 2017

Reality of the Expectation

"A lot of people get so hung up on what they can't have that they don't think for a second about whether they really want it."
- Lionel Shriver

July 1, 2017

Mudik dan Rindu

Sebenarnya saya pengen nulis ini pas hari Lebaran kemaren, tapi karena berbagai kesibukan (mencari makanan dan kue enak serta berburu THR) sehingga saya baru dapat membagikannya sekarang. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438H, teman-teman. Semoga tetap tawakkal dan istiqomah!
--

Bulan Ramadhan tahun ini sangat berkesan buat saya. Di tahun ini, karena kebijakan kampus, saya harus melalui bulan Ramadhan nyaris sebulan penuh di kota perantauan, Malang. Saya sempat pulang di 2 hari pertama bulan Ramadhan dan sudah kembali ke kota asal saat 2 hari menjelang Idul Fitri, tapi tetap saja hal tersebut memberikan pengalaman dan perasaan yang berbeda untuk saya.

Mungkin teman-teman berpikir, "ah, paling sama saja, toh masih di Indonesia, belum rantau ke luar negeri". Guys, walau masih di Indonesia, tetapi apalah daya saya yang masih suka dimasakin ibuk saat berbuka dan sahur harus melalui sahur sendirian dan (terkadang) berbuka puasa sendirian. Saya, yang biasanya berkumpul bersama keluarga saat sahur, ngabuburit, buka puasa, shalat tarawih, kemaren harus menjalankan semuanya (nyaris) sendirian. Walaupun ketika ngabuburit dan buka puasa saya (hampir selalu) ditemani doi, ya, tetap aja rasanya beda kalau saya buka puasanya bareng keluarga di rumah dengan makanan pembuka favorit kami. Walaupun saya sahur di kantin kost-an yang sudah tersedia, tetap aja rasanya beda kalau makannya itu sahur yang disiapin ibuk. Walaupun saya selalu berusaha untuk tetap tarawih (sendirian), ya, tetap aja rasanya beda kalau saya tarawihnya sekeluarga bareng ke masjid. Those little things that make me struggle through Ramadan in Malang.

Tapi, ada kesan tersendiri juga saya melalui bulan Ramadhan di Malang. Saya menjadi memahami karakter orang-orang mayoritas di Malang ketika menjalankan puasa. Ketika di kota asal saya masih mudah menemukan warung atau rumah makan yang berbuka di siang hari, di Malang tidak lagi. Sangat jarang restoran, warung atau rumah makan yang bersedia tetap berjualan di siang hari. Ketika di kota asal saya saat jam berbuka puasa bioskop masih dapat memutarkan film, maka di Malang seluruh bioskop akan memberikan waktu jeda untuk memutarkan film, dari pukul 5 sore hingga 8 malam. Yap, setelah jadwal shalat tarawih selesai bioskop akan kembali dibuka. "Di kota asal saya aja gak sampai seperti ini," batin saya. Yap, warga Kota Malang menurut kacamata saya sangat saling menghargai dan mempunya rasa toleransi yang tinggi. Di kota inilah saya belajar banyak mengenai "saling menghargai" dan "toleransi yang sejati". Dua hal itu yang saya jarang dapatkan di kota asal saya.

Ketika saya kembali ke kota asal di Jumat subuh minggu lalu, saya harus melalui perjalanan yang panjang. Sudah biasa, tapi tetap menarik untuk diceritakan. Karena dari Malang tidak ada penerbangan langsung ke kota asal, maka saya harus terbang dari kota Surabaya. Perjalanan dari Malang ke Surabaya biasanya ditempuh 2 hingga 2,5 jam, tapi kemarin, saya hanya menempuh 1,5 jam. Can you imagine that? Saya saja yang sudah biasa menempuh 2 jam menuju Bandara Juanda masih impressed dengan kecepatan mobil yang saya tumpangi. Mungkin karena saya berangkat dini hari (saya meninggalkan Malang pukul setengah satu pagi) sehingga waktu tempuhnya menjadi lebih singkat. "Kenapa berangkatnya pagi amat, kak?" Saya berangkat jam segitu karena jadwal penerbangan saya pukul 05.35 WIB. Sebegitu takutnya saya ketinggalan pesawat, maka saya memutuskan untuk menumpangi mobil rental yang jadwalnya paling pagi. Ternyata, sampai di Terminal 2 Bandara Juanda, saya masih harus menunggu kurang lebih 1,5 jam karena pintu bandaranya masih tutup. Sendirian, cewek, bawa banyak barang, masih dalam keadaan menahan kantuk, harus menunggu selama itu. Padahal, ketika di Malang saya sudah berencana akan tidur di ruang tunggu bandara. Tapi, kenyataan emang terkadang tidak sesuai dengan yang direncanakan, ya. :')
"You know... the airport is the only place you can walk around with no shoes, a glazed look on your face, and sleep on the benches and no one judges you." - Coriander Woodruff
Saya menemukan kutipan di atas di Goodreads, dan saya mengamininya. Di bandara, kalian bakal menjumpai berbagai orang, dan kalian tidak akan peduli dengan mereka. Kita dapat melakukan apa saja di bandara, asal tidak mengganggu ketertiban dan kenyamanan orang lain. Di bandara hingga di bus menuju pesawat, bahkan di pesawat, saya mengamati wajah orang-orang. Dan saya menemukan kemiripan. Bahwa semua orang yang melalui bandara ini adalah orang-orang yang rindu akan rumahnya, baik fisik maupun secara non-fisik. Dengan berbagai keterbatasan dan kekurangan, mereka tetap berjuang untuk dapat kembali ke rumahnya. Karena sejatinya, rumahlah yang membuat mereka aman, nyaman, dan tenang. Semenarik apapun tempat lain, seindah apapun kota atau tempat perantauan mereka, maka selalu ada rumah yang mereka rindukan. Selalu ada rumah yang menjadi pelabuhan terakhir mereka. Selalu ada tempat dan waktu untuk rumah mereka. Either with mine, I always miss my home wherever I go, although I already have new lovely place and more comfort environment, but truly, I always miss my family at home.

Dari perjalanan "mudik" ini saya kembali menemukan suatu pelajaran. Suatu perasaan rindu tak akan habis jika tak terbalas. Perasaan rindu bukan berarti dibalas dengan suatu kerinduan pula, tetapi bagaimana rindu itu bisa membawa kita pulang, ke "rumah" kita. Karena sejatinya, sejauh manapun seorang perantau pergi, ia akan merindukan "rumah" atau asal mereka.