Pages - Menu

March 6, 2016

Deep. Deeper. Deepest.

Jarum jam terus berdentang. Telah lewat dini hari ku rasa, ku tak terlalu menperhatikannya. Namun, luka itu masih di sana. Bersarang tepat, menggerogoti apa yang masih tersisa. Tak peduli dengan waktu, tak peduli dengan sekeliling, tak peduli dengan takdir. Masih terus di sana, masih terus terpikirkan, masih terus terbebani. Hal yang telah lama berlalu selalu saja menguak begitu saja. Padahal, sakit bukan main rasanya. Tidak dipedulikan orang yang paling kita peduli. Diacuhkan oleh orang yang paling dianggap berarti. Berada di sampingnya, namun ia hanya melihat ke depan dan belakangnya saja; tidak menganggap diri ini ada. Perlahan, luka itu makin melebar, terus melebar, hingga tak ada lagi yang tersisa. Tersisa satu tapi, hal paling menyakitkan untuk diingat. Bahwa diri ini mencintai orang yang salah. Bukan dirinya yang salah, tetapi diriku yang salah menjatuhkan hati.