Pages - Menu

October 23, 2016

Ketakutan Semata, Atau... ?

Salah satu hal yang paling kutakuti saat jatuh cinta adalah merelakan & melepaskan orang yang aku cinta saat aku belum siap.

Entah itu jauh karena jarak, atau jauh karena dia pergi untuk orang lain.

Katakanlah aku memang penakut, tapi sungguh, hal itu sangat menakutkan jika dipikirkan.

Orang yang kamu cinta, dan (mungkin) mengaku cinta kamu pula, seiring berjalannya waktu, malah mundur dan berpaling ke yang lain. Merasa tidak "cukup" dengan dirimu. Merasa kebahagiaannya hanya semu bersama dirimu. Merasa bahwa cintanya hanya sesaat. Merasa masih ada yang jauh lebih memahami dia. Merasa bahwa apa yang ia lakukan selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.

Saat kau jatuh cinta, siapkah kau dengan hal itu? Pernahkah terbersit di pikiranmu mengenai itu? Aku, saat ini, sempat beberapa kali memikirkannya. Namun, hal itu ditentang oleh pemikiranku yang lain, bahwa aku percaya kamu dengan sejuta kata & perbuatan manismu, aku percaya bahwa kamu tak akan melakukannya.

Maka, biarkanlah waktu menjawabnya. Biarkanlah momen-momen saat ini menjadi hulu dari aliran kenangan nanti. Akan ada 2 kemungkinan hilirnya, hal yang telah menakuti itu adalah benar, atau semuanya hanya salah satu pemikiran bodoh saja.

October 1, 2016

Takut

            source: tumbler (OA LINE)

Sebenarnya takut untuk jatuh hati, karena tahu rasa sakit dari 'jatuh' itu seperti apa.

Sebenarnya takut untuk memulai percaya lagi, karena tahu rasa pahitnya dikhianati.

Sebenarnya takut untuk berharap lebih, tapi apa daya itu menjadi suatu kekuranganku.

Sebenarnya takut untuk memulai hubungan lagi, tapi karena bersama kamu aku menjadi berani.

Terima kasih untuk membuatku jauh lebih bahagia dari sebelumnya.


September 24, 2016

Aku dan Kamu, Di Sini dan Di Sana.

Waktu telah menunjukkan dini hari. Dan kamu masih tetap di sana, berdiam diri di kepekatan malam.

Waktu telah menunjukkan dini hari. Dan kamu masih tetap di sana, merindukan yang tak merindumu.

Waktu telah menunjukkan dini hari. Dan kamu masih tetap di sana, mengharapkan suatu yang pasti tidak terjadi.

Waktu telah menunjukkan dini hari. Dan kamu masih tetap di sana, mengusahakan hal yang semu.

Waktu telah menunjukkan dini hari. Dan aku masih tetap di sini, menatapmu dan mengharapkanmu dari jauh.

Waktu telah menunjukkan dini hari. Dan aku masih tetap di sini, menyayangi walau tak tau kepastian.

Waktu telah menunjukkan dini hari. Dan aku masih tetap di sini, tak berhenti mencintai kamu yang tak kunjung menegapkan kepastian; bersamaku atau tetap bersama khayal semumu itu.

September 21, 2016

Aku Suka Kamu Tanpa Ketika

Aku suka pagi ketika matahari dengan hangatnya menjumpai embun.

Aku suka siang ketika angin berhembus pelan, awan berarak di langit biru dengan tenang.

Aku suka senja ketika matahari kembali ke pangkuan, memancarkan cahaya kedamaian.

Aku suka malam ketika bulan dengan anggunnya memimpin arakan awan & prajurit bintang di langit hitam.

Aku suka kamu, tak peduli ketika kapanpun.


September 13, 2016

Orang yang Paling Aku Sukai di Dunia

Hasil gambar untuk milea
courtesy by ayahpidibaiq.blogspot.co.id

......
"Kau tahu siapa orang yang paling aku sukai di dunia?" kutanya Lia di saat sedang berdua di atas motor untuk mengantarnya ke tempat pembuatan 'kaos kelas' di daerah Jalan Suci, Bandung.
"Siapa?" tanya Lia memelukku.
"Aku."
"Karena?"
"Aku suka ke aku yang bisa bertemu denganmu," kataku.
Lia ketawa dan mempererat pelukannya. Angin di pagi itu sangat dingin sekali. Lia memakai jaket army Korea yang aku pinjamkan ke dia, tetapi tidak kunjung kuambil.
"Kamu tau siapa yang paling aku sukai di dunia?" tanya Lia kemudian.
"Siapa?" kutanya balik.
"Kamu," jawab Lia langsung.
"Karena?"
"Karena?" Lia diam sebentar, seperti lagi mikir. "Karena bisa bertemu denganku."
"Ha ha ha."
Aku merasa senang. Sangat senang, seperti segala sesuatu yang akhirnya mampu meyakinkan diriku bahwa dunia ini menyenangkan dan Lia adalah keindahan Indonesia.
Itu semua alami. Terutama ketika aku masih muda. Jika saat itu, kami saling jatuh cinta, kebersamaan macam itu adalah yang terpenting.

***

Milea, Suara dari Dilan. 2016.

March 6, 2016

Deep. Deeper. Deepest.

Jarum jam terus berdentang. Telah lewat dini hari ku rasa, ku tak terlalu menperhatikannya. Namun, luka itu masih di sana. Bersarang tepat, menggerogoti apa yang masih tersisa. Tak peduli dengan waktu, tak peduli dengan sekeliling, tak peduli dengan takdir. Masih terus di sana, masih terus terpikirkan, masih terus terbebani. Hal yang telah lama berlalu selalu saja menguak begitu saja. Padahal, sakit bukan main rasanya. Tidak dipedulikan orang yang paling kita peduli. Diacuhkan oleh orang yang paling dianggap berarti. Berada di sampingnya, namun ia hanya melihat ke depan dan belakangnya saja; tidak menganggap diri ini ada. Perlahan, luka itu makin melebar, terus melebar, hingga tak ada lagi yang tersisa. Tersisa satu tapi, hal paling menyakitkan untuk diingat. Bahwa diri ini mencintai orang yang salah. Bukan dirinya yang salah, tetapi diriku yang salah menjatuhkan hati.

January 1, 2016

2016

Assalamualaikum, selamat dini hari.

Post ini saya tulis di awal tahun 2016, di mana saya berharap saya menutup tahun 2015 kemarin dengan baik (tentu masih banyak kesalahan yang saya punya). Di tahun 2016, saya berharap umat di dunia terutama saudara/i Muslimku dapat terus menjaga ibadah, amal, dan perbuatan. Semoga saya (secara khususnya) dapat terus mencapai segala harapan, asa, dan cita-cita yang saya miliki. Semoga saya memiliki kepribadian yang lebih baik dari sebelumnya, Aamiin.


Selamat datang 2016, semoga semua hal yang terbaik akan terjadi di tahun ini ☀️